INSTRUKSI UNTUK MCA
PANDUAN BAGI MUSLIM CYBER ARMY (MCA)
1. Jangan terpancing emosi dari Fitnah yang mereka buat.
2. Tetap Bijak dan Cerdas menyikapi Perang Cyber ini.
3. Bantah/lawan fitnah/Hoax mereka dengan FAKTA
4. Jangan memakai kata-kata kasar karena itu Tujuan mereka, memancing kita untuka mengeluarkan kata-kata kasab dan mengumpat, berbahaya dari segi Hukum.
5. Jangan membalasa Meme/gambar fitnah mereka dengan gambar yang tidak pantas, tunjukkan kalau kita tidak seperti mereka.
6. Biasakan Like, Share dan Comment di postingan saudara seperjuangan. abaikan postingan mereka atau report saja.
7. Kalau ada postingan mereka yang menistakan Islam, memfitnah Ulama, melecehkan/menghina Ulama jangan ditanggapi, Screenshot dan
Share di Grup atau laman seperjuangan MCA. Jika Anda takut, kirim saja langsung ke email TIM PEMBURU PENISTA:
lapormca@gmail.com dan jangan main hakim sendiri. Serahkan ke pihak yang berwajib bila si penista tertangkap. Tuntut secara hukum.
Ingat!!!
Gadget kalian adalah Senjata ampuh kalian membela Islam dan Negeri ini.
Amal kalian yang tak pamrih, tak kenal lelah, telah Allah balas dengan kemenangan demi kemenangan. Dan pahala yang abadi disisiNya.
Selalu luruskan niat rapatkan barisan. Allah SWT akan menolong para pejuangNya.
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong [agama] Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad: 7) .
.hoax lawan fakta
.pintar lawan cerdas
.yg bathil lawan dgn yg haq
BRAVO #MuslimCyberArmy
#MuslimCyberArmy 👉 tidak ada sangkut pautnya dgn pilitik manapun .
#MuslimCyberArmy akun pembela kebenaran ,melawan kebathilan...
From @kakang.perabu.212
🔽👇
Sabtu, 19 Agustus 2017
Persiapan Proklamasi
Jangan melupakan sejarah
*PERSIAPAN PROKLAMASI*
📆📆📆📆📆📆📆📆
● _“Sekarang, Bung. Sekarang! Malam ini juga!”_ kata Chaerul Saleh kepada Bung Karno.
_”Kita harus segera merebut kekuasaan!”_ tukas Sukarni Kartodiwirjo berapi-api.
_”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!”_ seru para pemuda di rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
●Para pemuda, termasuk Wikana, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro datang ke rumah Bung Karno pada 15 Agustus 1945 pukul 22.00. Mereka mendesak Soekarno agar segera merumuskan naskah proklamasi begitu Jepang dikalahkan Sekutu pada 14 Agustus 1945.
●Tapi Bung Karno menolak keinginan mereka. Ia dan Bung Hatta ingin proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di mana Bung Karno menjadi Ketuanya.
●Para pemuda bersikeras agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka beranggapan PPKI buatan Jepang. Mereka tidak ingin Bung Karno dan Bung Hatta terpengaruh Jepang dan tidak ingin kemerdekaan RI seolah-olah hadiah dari Jepang.
●Mereka lalu membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00 dinihari, untuk merumuskan naskah proklamasi.
●Rengasdengklok dinilai aman, sedangkan di Jakarta para tentara Jepang bersiaga penuh.
_“Saya dan Guntur yang masih bayi ikut ke Rengasdengklok. Kami dijemput Sukarni dan Winoto Danuasmoro dengan mobil Fiat hitam kecil. Di dalam mobil sudah ada Bung Hatta,”_ cerita Fatmawati.
●Pada 16 Agustus 1945 tengah malam Achmad Soebardjo menjemput Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. Sesampainya di Jakarta mereka disediakan tempat berkumpul di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.
●Hubungan para nasionalis dekat dengan Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.
Ada 29 orang yang berkumpul di rumah Maeda pada malam itu.
Mereka adalah Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantoro (Mas Suwardi Soerjaningrat), Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Teuku Mohammad Hassan, Otto Iskandar Dinata, R.Soepomo, BM Diah, Sukarni, dan beberapa tokoh lainnya.
●Selama mereka berunding merumuskan naskah proklamasi, Maeda naik ke lantai atas rumahnya.
Usai menulis naskah proklamasi bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, Soekarno membacakannya di hadapan para peserta rapat yang berkumpul di ruang tamu.
●Rapat baru selesai pada 17 Agustus 1945 pukul 03.00 dini hari, tanggal 9 Ramadhan.
●Setelah mendapat persetujuan dari semua hadirin, Bung Karno segera meminta Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik mengetik naskah proklamasi.
Sajoeti mengetik naskah ditemani wartawan Boerhanoeddin Mohammad Diah (BM. Diah).
●Tiga kata dari konsep naskah proklamasi yang ditulis tangan oleh Bung Karno diketik Sajoeti dengan beberapa perubahan kata.
Kata ‘tempoh’ diubah menjadi ‘tempo’, kata ‘Wakil-wakil bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘Atas nama bangsa Indonesia’.
Begitu pula dalam penulisan hari, bulan, dan tahun.
●Tulisan tangan asli Bung Karno kemudian dibuang di tempat sampah oleh Sajoeti tapi dipungut oleh B.M. Diah, seorang penyiar Radio Hosokyoku dan wartawan Asia Raja.
●Begitu naskah proklamasi selesai diketik, Soekarno dan Mohammad Hatta segera menandatanganinya di atas piano di rumah Maeda.
Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor-kantor berita agar menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.
●Hari Jumat, pukul 05.00 pagi, pada 17 Agustus 1945, mereka ke luar dari rumah Laksamana Maeda dengan bangga karena teks Proklamasi selesai ditulis.
●Bung Karno pulang ke Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta. Ia sedang sakit malaria.
Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun naskah proklamasi.
●Pukul 08.00, dua jam sebelum upacara pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno masih berbaring di kamarnya.
Ia minum obat kemudian tidur lagi.
●Pukul 09.00 Bung Karno terbangun. _“Saya greges (tak enak badan),”_ kata Bung Karno.
Ia kemudian berpakaian rapi, memakai kemeja dan celana putih.
Bung Hatta dan beberapa orang sudah menunggunya. Fatmawati sudah menyiapkan bendera merah putih.
●Pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 Bung Karno, Bung Hatta, dan para pemuda berkumpul di halaman depan rumah Bung Karno. Latief Hendraningrat menjadi pemimpin upacara bendera.
●Mereka mendengarkan Bung Karno membaca teks proklamasi dengan hikmad, terharu, dan bangga.
Beberapa orang menangis terharu. Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dinyanyikan dengan semangat meski tanpa iringan musik. Bendera merah putih dinaikkan.
●Setelah upacara yang singkat itu Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih demam. Tapi ia sangat bangga.
★Sebuah negara baru telah dilahirkan. Pagi itu Indonesia merdeka.
Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!
*PERSIAPAN PROKLAMASI*
📆📆📆📆📆📆📆📆
● _“Sekarang, Bung. Sekarang! Malam ini juga!”_ kata Chaerul Saleh kepada Bung Karno.
_”Kita harus segera merebut kekuasaan!”_ tukas Sukarni Kartodiwirjo berapi-api.
_”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!”_ seru para pemuda di rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
●Para pemuda, termasuk Wikana, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro datang ke rumah Bung Karno pada 15 Agustus 1945 pukul 22.00. Mereka mendesak Soekarno agar segera merumuskan naskah proklamasi begitu Jepang dikalahkan Sekutu pada 14 Agustus 1945.
●Tapi Bung Karno menolak keinginan mereka. Ia dan Bung Hatta ingin proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di mana Bung Karno menjadi Ketuanya.
●Para pemuda bersikeras agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka beranggapan PPKI buatan Jepang. Mereka tidak ingin Bung Karno dan Bung Hatta terpengaruh Jepang dan tidak ingin kemerdekaan RI seolah-olah hadiah dari Jepang.
●Mereka lalu membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00 dinihari, untuk merumuskan naskah proklamasi.
●Rengasdengklok dinilai aman, sedangkan di Jakarta para tentara Jepang bersiaga penuh.
_“Saya dan Guntur yang masih bayi ikut ke Rengasdengklok. Kami dijemput Sukarni dan Winoto Danuasmoro dengan mobil Fiat hitam kecil. Di dalam mobil sudah ada Bung Hatta,”_ cerita Fatmawati.
●Pada 16 Agustus 1945 tengah malam Achmad Soebardjo menjemput Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok. Sesampainya di Jakarta mereka disediakan tempat berkumpul di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.
●Hubungan para nasionalis dekat dengan Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.
Ada 29 orang yang berkumpul di rumah Maeda pada malam itu.
Mereka adalah Ir.Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantoro (Mas Suwardi Soerjaningrat), Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Teuku Mohammad Hassan, Otto Iskandar Dinata, R.Soepomo, BM Diah, Sukarni, dan beberapa tokoh lainnya.
●Selama mereka berunding merumuskan naskah proklamasi, Maeda naik ke lantai atas rumahnya.
Usai menulis naskah proklamasi bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, Soekarno membacakannya di hadapan para peserta rapat yang berkumpul di ruang tamu.
●Rapat baru selesai pada 17 Agustus 1945 pukul 03.00 dini hari, tanggal 9 Ramadhan.
●Setelah mendapat persetujuan dari semua hadirin, Bung Karno segera meminta Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik mengetik naskah proklamasi.
Sajoeti mengetik naskah ditemani wartawan Boerhanoeddin Mohammad Diah (BM. Diah).
●Tiga kata dari konsep naskah proklamasi yang ditulis tangan oleh Bung Karno diketik Sajoeti dengan beberapa perubahan kata.
Kata ‘tempoh’ diubah menjadi ‘tempo’, kata ‘Wakil-wakil bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘Atas nama bangsa Indonesia’.
Begitu pula dalam penulisan hari, bulan, dan tahun.
●Tulisan tangan asli Bung Karno kemudian dibuang di tempat sampah oleh Sajoeti tapi dipungut oleh B.M. Diah, seorang penyiar Radio Hosokyoku dan wartawan Asia Raja.
●Begitu naskah proklamasi selesai diketik, Soekarno dan Mohammad Hatta segera menandatanganinya di atas piano di rumah Maeda.
Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor-kantor berita agar menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.
●Hari Jumat, pukul 05.00 pagi, pada 17 Agustus 1945, mereka ke luar dari rumah Laksamana Maeda dengan bangga karena teks Proklamasi selesai ditulis.
●Bung Karno pulang ke Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta. Ia sedang sakit malaria.
Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun naskah proklamasi.
●Pukul 08.00, dua jam sebelum upacara pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno masih berbaring di kamarnya.
Ia minum obat kemudian tidur lagi.
●Pukul 09.00 Bung Karno terbangun. _“Saya greges (tak enak badan),”_ kata Bung Karno.
Ia kemudian berpakaian rapi, memakai kemeja dan celana putih.
Bung Hatta dan beberapa orang sudah menunggunya. Fatmawati sudah menyiapkan bendera merah putih.
●Pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 Bung Karno, Bung Hatta, dan para pemuda berkumpul di halaman depan rumah Bung Karno. Latief Hendraningrat menjadi pemimpin upacara bendera.
●Mereka mendengarkan Bung Karno membaca teks proklamasi dengan hikmad, terharu, dan bangga.
Beberapa orang menangis terharu. Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dinyanyikan dengan semangat meski tanpa iringan musik. Bendera merah putih dinaikkan.
●Setelah upacara yang singkat itu Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih demam. Tapi ia sangat bangga.
★Sebuah negara baru telah dilahirkan. Pagi itu Indonesia merdeka.
Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!
Rabu, 14 September 2016
BAHAYA MEME IDUL ADHA.
+ Khusus untuk anda yang masih merasa muslim. Membaca postingan ini sampai selesai kemudian membagikannya, mungkin akan sangat bermanfaat.
+ Sebagaimana kita tahu, sekitar beberapa tahun terakhir, menjelang dan saat idul adha banyak sekali bertebaran meme-meme lucu tentang idul adha. Objeknya kalau tidak kambing, ya sapi.
+ Anda pasti pernah melihat meme semacam itu. Atau bahkan anda ikut membuat atau menyebarkan?
+ Meme-meme tersebut membuat kita tertawa, merasa terhibur, sehingga idul adha terasa sangat membahagiakan.
+ Dua tahun lalu, saya juga melakukannya. Ikut membuat meme kambing dan menyebarkannya di facebook dan dp blackberry. Dan teman-teman saya ikut tertawa. Saat itu saya merasa meme saya berhasil!
+ Kemudian saya bertemu dengan kenyataan lain yang membuat saya merasa amat bersalah. Bersalah sebagai seorang manusia, sekaligus merasa amat berdosa sebagai seorang yang mengaku beragama islam.
+ Begini ceritanya....
+ Saya mengikuti pengajian. Dan penceramahnya menjelaskan....
++
+ Idul adha adalah tentang Nabi Ibrahim. Seorang nabi yang selama bertahun-tahun tidak diberi keturunan.
+ Silahkan bertanya kepada pasangan suami istri yang tak kunjung punya momongan. Bagaimana rasanya, bagaimana sedihnya. Saya yakin, rasa sakitnya tak terperikan.
+ Lantas, saat akhirnya diberi keturunan, tiba-tiba Allah meminta sang anak untuk disembelih.
+ Bapak... ibu..., apa yang anda rasakan jika anda diminta menyembelih anak kesayangan anda? Apakah akan anda lakukan, atau anda akan menentangnya?
+ Jujur sajalah. Jangankan menyembelih anak. Jangankan menyerahkan anak kesayangan kepada Allah. Kita ini disuruh zakat saja berat. Disuruh sedekah saja kebanyakan alasan. Disuruh meninggalkan riba yang jelas-jelas diperangi allah saja bisa melawan.
+ Kita bahkan berani kok bilang kalau enggak KPR mana bisa punya rumah. Kalau enggak leasing mana bisa beli mobil. Kalau enggak ngutang bank mana bisa bikin usaha.
+ Seolah-olah bank memiliki kekuasan yang lebih besar dari Tuhan yang menciptakan dan memiliki seluruh alam semesta ini.
+ Berbeda dengan Ibrahim. Secinta apa pun dia kepada anaknya, tapi ketaatannya kepada Allah tak tergantikan. Maka saat Allah memintanya menyembelih Ismail, Ibrahim melakukannya.
+ Apakah peristiwa dan pengorbanan seorang ayah yang rela menyembelih anaknya karena ketaatannya kepada Allah seperti yang dilakukan Ibrahim adalah sebuah kisah komedi?
+ Tunjukkan, dimana letak kelucuan Ibrahim, sehingga perlu anda buatkan meme kocak?
++
+ Idul Adha, adalah tentang Siti Hajar. Seorang istri yang diajak berjalan jauh di hamparan pasir gersang yang panasnya enggak ketulungan.
+ Setelah sampai di satu lembah mereka berhenti. Lalu suaminya berkata, kurang lebihnya begini :
+ Aku tinggalkan engkau di sini wahai istriku. Apa pun yang terjadi janganlah engkau meninggalkan lembah ini.
+ Kemudian suaminya pergi. Tidak meninggalkan apa-apa. Tidak meninggalkan uang, atm, kartu kredit, mobil utangan, apalagi rumah kpr.
+ Siti Hajar bertanya kepada suaminya. Engkau mau kemana? Pertanyaan itu dia ulang hingga tiga kali, tapi ia hanya mendapatkan sepi. Suaminya diam seribu bahasa.
+ Baru saat sang istri bertanya: apakah ini perintah dari Allah? Ibrahim menjawab : iya. Sesungguhnya Allah yang memerintahku.
+ Taukah engkau apa jawaban bunda hajar?
+ Baiklah, jika ini perintah dari Allah. Pergilah suamiku. Jangan risaukan kami. Allah pasti akan mencukupi kebutuhan kami. Allah tidak akan menelantarkan hambaNya.
+ Kata-kata semacam itu tidak akan muncul dari mulut wanita yang tidak taat pada suami dan tak memiliki iman kepada Tuhan.
+ Sepeninggal Ibrahim banyak cobaan menimpa bunda hajar. Terutama saat Ismail menangis kehausan.
+ Hajar mencari-cari sumber mata air, tapi tak ada. Ia berlari-lari, berputar-putar mengelilingi lembah dengan napas yang tersengal.
+ Tapi dia tidak menemukan mata air.
+ Ia ingin pergi keluar lembah, akan tetapi ibrahim sudah berpesan: apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan lembah ini.
+ Dalam keadaan lelah, namun tetap memegang ketaatan pada perintah suami dan keyakinan bahwa Allah akan memelihara mereka, bunda hajar kembali menemui Ismail yang ia tinggal di gurun.
+ Sampai di sana dia terkejut. Di depan ismail menyembur air dari balik pepasir. Air yang selalu memancar deras dan tak pernah kering bahkan setelah berabad-abad kemudian.
+ Mata air inilah yang sampai sekarang kita sebut air zamzam.
+ Bapak ibu.... Alangkah mulianya ahlak siti hajar. Aklaknya sebagai istri, juga akhaknya sebagai hamba allah.
+ Hajar tidak protes begitu tahu suaminya melakukan sesuatu yang tampaknya keji itu karena ia diperintah Allah. Hajar justru meyakinkan suaminya, bahwa Allah pasti akan melindungi dia dan ismail.
+ Meski mereka mau mati karena kehausan, bunda hajar tidak meninggalkan lembah. Sebab dia patuh pada suaminya yang berpesan: apapun yang terjadi jangan meninggalkan lembah.
+ Bandingkan dengan istri-istri jaman sekarang. Atau coba tanya pada diri anda sendiri. Jika anda yang menjadi hajar, mungkinkah anda tetap di lembah melihat anak anda kehausan?
+ Mungkin anda akan keluar dari lembah untuk mencari pertolongan. Atau sekalian ajak ismail untuk pergi dari lembah. Ngapain di situ wong gersang. Bisa item kulit anda tauk :(
+ Tapi bunda hajar taat pada suaminya dan taqwa pada Tuhannya. Makanya dia patuh dan percaya.
+ Kemudian Allah abadikan ketaatan hajar. Lari berkeliling 7 kali dalam syai bagi jamaah haji adalah monumen larinya siti hajar saat berlari-lari mencari air minum untuk ismail.
+ Siti Hajar adalah wanita hebat, istri yang taat, dan ibu berahlak mulia. Apa yang dia lakukan diabadikan oleh Allah, sehingga semua jamaah haji wajib berlari berputar 7 kali dengan rute yang sama yang pernah dilalui siti hajar.
+ Apakah ada bagian yang lucu dalam episode siti hajar? Adakah bagian membuat anda tertawa dari apa yang dilakukan siti hajar dalam kisah tersebut, sehingga kita merasa perlu membuatkan meme lucu?
++
+ Idul Adha adalah kisah tentang ismail. Seorang anak yang ditinggal pergi bapaknya di tengah gurun selama bertahun-tahun.
+ Dan saat bertemu kembali, saat sedang asyik-asyiknya melepas rindu, tiba-tiba sang bapak bertanya: apakah aku boleh menyembelihmu?
+ Bapak bapak.... Silahkan tanyakan itu pada anak-anak anda. Katakan pada anak anda, bahwa Allah meminta anda menyembelihnya.
+ Niscaya anda akan dianggap gila. Atau bisa jadi malah anda yang disembelih anak anda.
+ Tapi apa jawab Ismail?
+ Baiklah ayahanda. Kalau memang itu perintah dari Allah, maka lakukanlah. Niscya Allah akan mendapati kita sebagai orang-orang bertaqwa.
+ Dan jawaban semacam itu, terlahir dari seorang anak belia. Anak yang diasuh oleh seorang ibu yang taat pada Tuhannya dan patuh kepada suaminya.
+ Lantas bagaimana dengan anak-anak yang ditinggal ibunya meninggalkan lembah. Yang ditinggal ibunya bekerja seharian. Yang ditinggal ibunya memburu karir. Yang ditinggal ibunya merantau ke luar negeri. Yang ditinggal ibunya lalu dititipkan kepada seorang pembantu.
+ Ahlak semacam apa yang akan dimiliki anak-anak dengan ibu yang pergi meninggalkan lembah dan melampaui batasnya?
+ Dan sekali lagi say aharus bertanya, apakah jawaban ismail saat ayahnya bertanya apakah dia mau disembelih adalah jawaban yang lucu?
+ Tidak sama sekali!
++
+ Dan hari itu, sepasang suami istri beserta anaknya yang taat pada Allah sedang diuji. Patuhkah mereka kepada Tuhannya?
+ Ternyata mereka patuh. Ibrahim taat, siti hajar pasrah, dan ismail rela. Ketiganya tidak melakukan pembelaan apa pun atas perintah dari Tuhannya.
+ Allah kemudian mengabadikan kisah heroik ini dalam idul adha.
++
+ Bapak ibu, idul adha adalah sebuah kisah yang sangat sakral. Sebuah moment iman keluarga Ibrahim kepada Tuhannya.
+ Tentang ibrahim yang rela menyembelih anaknya demi imannya pada Allah.
+ Tentang hajar yang taat pada perintah suami untuk tidak meningalkan lembah. 7 kali ia berlari mengelilingi lembah kemudian Allah jadikan salah satu rukun dalam ibadah haji.
+ Tentang ismail yang rela disembelih ayahnya karena yakin bahwa perintah Allah pasti yang terbaik.
+ Sungguh tidak ada sedikitpun bagian dari kisah pengurbanan keluarga ibrahim ini yang bersifat lucu. Seluruhnya justru tentang air mata.
++
+ Jadi pastaskah kisah heroik semacam itu kita jadikan bahan tertawaan?
+ Mari bertanya, meme meme lucu tentang pengurbanan keluarga ibrahim itu kamu tujukan untuk siapa? Dan kamu niatkan untuk apa?
+ Apa kamu kira meme meme lucu itu akan membuat ibrahim dan keluarganya terhibur?
+ Atau jangan-jangan, kamu tidak sadar bahwa kamu sedang mengolok-olok dan menghina monumen sakral kepatuhan sebuah keluarga kepada Allah!
++
+ Bantu #Share agar makin banyak umat islam menyadari kekeliruannya!
🙏🙏🙏🙏🙏
Perbedaan Antara Perlombaan (Persaingan) dengan Dengki
Nabi Muhammad Saw bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
"Takutlah kalian dari perbuatan dengki, karena dengki akan mengikis kebaikan-kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar.“ (H.R Abu Dawud)
Dengki adalah penyakit hati yang berbahaya. Dengki memiliki efek negatif bagi pelakunya dan berdampak buruk bagi hubungan sosialnya, terutama bagi orang-orang yang didengkinya. Rasa dengki bisa mendorong seseorang melakukan tindak kejahatan seperti membunuh atau menyakiti orang yang didengki. Bahkan terhadap orang-orang yang berada di sekeliling orang yang didengki, baik saudara maupun teman.
Berikut adalah perbedaan antara persaingan dengan dengki :
1. Perlombaan (persaingan) adalah keinginan serius untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi setelah melihat keutamaan orang lain, agar bisa menyusul bahkan mengunggulinya.
Perlombaan (persaingan) menandakan salah satu kemuliaan hati dan cita-cita yang tinggi serta besarnya kemauan yang dimiliki seseorang.
Dalam hal ini Allah Swt. berfirman,
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin [83]: 26)
Makna asal dari kata munaafasah adalah sesuatu yang berharga, yang diinginkan dan diharapkan oleh semua orang. Maka dari itu, semua orang yang memiliki hati yang suci akan saling berlomba untuk mendapatkannya.
Hati yang suci itu akan senang bila ikut bergabung dalam persaingan memperebutkan sesuatu yang berharga itu, seperti halnya para sahabat Rasulullah Saw. yang bergembira bila bisa ikut berpartisipasi dalam persaingan memperebutkan kebaikan.
Bahkan, beberapa di antara mereka saling men-support. Ini merupakan bagian dari perlombaan, sebagaimana firman Allah Swt., “Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Al-Māidah [5]: 48)
Allah juga berfirman, “Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid [57]: 21)
Umar bin Khaththab r.a pernah mencoba mendahului Abu Bakar r.a dalam melakukan kebaikan, namun tidak pernah bisa. Ketika Abu Bakar menjadi pemimpin, Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencoba menyaingimu lagi dalam segala kebaikan.”
Dalam kesempatan yang lain Umar berkata, “Demi Allah, setiap kali aku mencoba mendahuluinya dalam berbuat kebaikan, aku selalu mendapatkannya lebih dulu mengerjakan kebaikan tersebut.”
Dua insan yang saling berlomba, ibarat dua anak yang saling berlomba memperebutkan keridhaan dan kasih sayang orang tuanya. Orang tua merasa senang dengan persaingan anak-anaknya dan menganjurkan mereka dalam persaingan kebaikan tersebut. Sementara keduanya saling mencintai dan saling menganjurkan untuk mencari keridhaan kedua orang tua.
2. Dengki adalah akhlak tercela yang sangat buruk.
Seorang pendengki tidak memiliki i’tikad baik sama sekali. Ia akan mendengki orang-orang yang berbuat baik dan melakukan tindakan terpuji. Ia berharap mereka tidak bisa melakukan kebaikan sehingga sama-sama dalam derajat tanpa kebaikan, sebagaimana firman Allah Swt.,
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.” (Al-Baqarah [2]: 109)
Pendengki adalah musuh kenikmatan atau anugerah. Dia selalu berharap kenikmatan hilang dari pemiliknya sebagaimana dirinya yang hidup tanpa kenikmatan.
Sedangkan orang yang berlomba adalah pencari anugerah. Dia berharap mendapatkan kesempurnaan anugerah untuk dirinya dan untuk mereka yang menjadi saingannya. Dia berusaha menyaingi orang lain dan berharap bisa mengunggulinya dalam hal kebaikan.
Seorang pendengki senang melihat kemunduran orang lain, dan berharap bisa sama-sama dalam derajat kekurangan. Mayoritas hati yang suci akan memilih persaingan dalam kebaikan dari pada harus mendengki.
Barang siapa menjadikan seorang ulama yang bertakwa sebagai idolanya, lalu berusaha menyamainya dalam keutamaan tersebut, maka dia akan banyak mendapatkan manfaat. Ia akan menyerupai orang tersebut dalam kebaikan dan berusaha mengejar atau mengunggulinya. Ini bukanlah tindakan tercela.
Kata dengki terkadang digunakan untuk menyebutkan sebuah perlombaan (persaingan) yang terpuji,
sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِيْ الْحَقِّ وَآخَرُ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak ada kedengkian kecuali terhadap dua orang berikut ini; pertama, seseorang yang diberikan kelebihan harta, lalu ia gunakan di jalan yang benar. Kedua, seseorang yang diberikan suatu hikmah kemudian dia gunakan dan ajarkan.”
Kedengkian di sini bermakna persaingan dan iri (ghibthah) yang menunjukkan akan tingginya cita-cita seseorang dan kemauannya yang menggebu-gebu untuk menyamai keutamaan yang dimiliki orang lain.
Semoga Allah hindarkan kita dari sifat DENGKI.
Aamiin.
Salam,
Abghan
Sumber : Buku Terapi Dengki dan Pandangan Mata
Oleh Abdul Qodir Abu Thalib
Selasa, 26 Juli 2016
Dari Prof Dermawan Wibisono (TI 84, dosen SBM ITB)
Saat mendapat beasiswa ke Australia 1995, mahasiswa Indonesia sempat diinapkan 3 malam di rumah penduduk di suatu perkampungan untuk meredam shock culture yang dihadapi.
Saya bersama dengan kawan dari Thailand menginap di Balarat, di peternakan seorang Ausie yang tinggal suami istri bersama dengan anak tunggalnya. Luas peternakannya kira-kira sekecamatan Arcamanik, dengan jumlah sapi dan dombanya, ratusan, yang pemliknya sendiri tak tahu secara pasti, karena tak pernah menghitungnya dan sulit memastikannya dengan eksak.
Suatu sore saya terlibat perbincangan dengan anak tunggalnya di pelataran rumah di musim panas yang panjang, di bulan Janauari 1995.
Aussie:"Why so many people form your country take a PhD and Master degree here?"
Saya:" Why not? your country give a grant, not loan, for us? so it is golden opportunity for us to get higher degree. Why you just finish your education at Diploma level, even it is free for Aussie to take higher degree?"
Aussie:" I don't need that degree, my goal is just to get a skill how to make our business broader. Now I am starting my own business in textile and convection, so I just need the technique to produce it, not to get any rubbish degree .."
Dua puluh tahun kemudian saya masih termenung, berusaha mencerna fenomena yang terjadi di negeri ini. Begitu banyak orang tergila-gila pada gelar doktor, profesor, sama seperti tahun 1970an ketika banyak orang tergila-gila pada gelar ningrat RM, RP, GKRH.
Dan tentu orang yang berusaha mendapatkan gelar itu tak terlalu paham dengan substansi yang dikandung dalam gelar yang diisandang. Pernah dengan iseng kutanyakan kepada supervisorku di Inggris sana, saat mengambil PhD:
" Why don't you take a professor?" tanya saya lugu kepada supervisorku yanng belum profesor padahal Doktornya cumlaude dan sudah membimbing 10 doktor baru.
Dengan serta merta ditariknya tangan kanan saya. Ditatapnya mata saya tajam-tajam. "Look," katanya dengan muka serius: "..Professor is not a status symbol or level in expertise, but professor is mentality, is a spirit, is a way of life, is a wisdom, so get it, is just the matter of time if you have ready for all requirements... But have you ready with the consequence of it?"
Dan profesor saya lebih cepat, saya dapatkan dari pembimbing saya yang arif dan bijaksana itu.
Merenungi dua kejadian itu, semakin saya sadari, bahwa Indonesia memiliki segala sumber daya untuk maju, tapi mentality lah yang menjadi kendala utama.
Social sciences dan social behaviour menjadi hal terpenting dalam study yang harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan IQ, EQ dan SQ yang tinggi. Dan celakanya, sudah lama kadung diyakini di sini bahwa ilmu eksakta lebih sulit dari pada non exacta. Dan persyaratan masuk jurusan non exacta yang di Australia butuh IELTS 7.5 dibandingkan dengan engineering yang hanya butuh 6.0, berbanding terbalik dengan yang diterapkan di sini. Akibatnya, negara menjadi amburadul karena yang banyak mengatur negara dan pemerintahan bukanlah orang yang memilki kemampuan untuk itu.
Dari mana mesti mulai membenahi hal ini?
Pendidikan dasar dan Pendidikan Tinggi. Seperti Finlandia yang pendidikannya termasuk terbaik di dunia. Guru-guru di sana merupakan profesi terhormat dengan pemenuhan kebutuhan diri yang mencukupi. Jadi guru didapatkan dari the best of class dari level pendidikan yang ditempuh. Sehingga penduduk Finlandia sudah hampir 100% memiliki degree Master. Bukan didapatkan dari pilihan kedua, pilihan ketiga, atau daripada tidak bekerja.
Melihat acara Kick Andy beberapa hari lalu: Nelson Tansu dan Basuki, sebagai tamu undangan, adalah contoh konkrit, dua orang expert Indonesia yang qualified yang bekerja di negara USA dan Swedia, dan mereka tergabung dalam 800 orang expert Indonesia yang diakui di luar negeri dan bekerja di luar negeri. Artinya Indonesia bisa, Indonesia memiliki kemampuan. Yang menjadi masalah adalah how to manage them in Indonesia environment? How we arrange them, how to make synergy between government, industry, university to bring Indonesia together to be world class?
Melihat management pemerintahan yang amburadul? Tidak usah susah-susah menganalisis dengan integral lipat tiga segala. Lihat saja satu spek sederhana: gaji Presiden yang 62.5 juta dan gaji menteri yang 32.5 juta dibandingkan dengan gaji direktur BUMN dan lembaga keuangan yang mencapai lebih dari 100 juta per bulan, itu sudah kasat mata, bahwa menentukan gaji saja sudah tidak memperhatikan: range of responsibility, authority, impact to the Indonesia society, dan sebagainya, apalagi menentukan yang lain. Semua asal copy paste dari luar tanpa melihat esensi yang dikandungnya.
Aku termenung, mengingat pembicaranku dengan ayahanda saat kelulusanku dulu 26 tahun yang lalu. Kepada beliau kuutarakan niatku untuk merantau ke luar negeri, dan apa jawab beliau:"Tidak usah pergi, kalau semua anak Indonesia yang pintar ke luar negeri, siapa nanti yang akan mendidik orang Indonesa sendiri?"
Dan kini aku tergulung dalam idealisme, aktualisasi diri, dan kepatuhanku kepada orang tua.
Hal yang paling kutakuti dalam hidup adalah jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak sidiq, amanah, tabliq, fathonah. Dan terutama dipimpin oleh orang yang tidak lebih pandai, sehingga semuanya jadi kacau. Dan kekacauan terjadi di mana-mana, dalam berbagai level.
Wallahu alam bisawab
Senin, 21 Maret 2016
Mengapa Kau Disebut Pedang Allah? Ini Jawaban Khalid bin Walid
Seorang Panglima Romawi bernama Gregory penasaran mengapa Khalid bin
Walid disebut pedang Allah (syaifullah). Ia mengira, Khalid bin Walid
mendapat sebilah pedang dari langit sehingga selalu menang dalam perang.
Pada pekan keempat Agustus 636 M bertepatan dengan pekan ketiga Rajab 15 H, Gregory mendatangi Khalid bin Walid. Saat itu perang Yarmuk belum berakhir, namun ia ingin mendapatkan kejelasan tentang gelar pedang Allah.
“Wahai Khalid,” kata Gregory, “jawablah dengan jujur dan jangan berdusta karena seorang yang merdeka tidak akan berdusta dan jangan pula engkau menipuku karena seorang yang mulia tidak akan menipu orang yang berharap secara baik-baik. Apakah Allah pernah menurunkan sebuah pedang dari langit kepada Nabi-Nya kemudian diberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau hunuskan pada suatu kaum engkau pasti bisa mengalahkannya?”
“Tidak,” jawab Khalid bin Walid.
“Lantas mengapa engkau disebut pedang Allah?”
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya pada kami lalu ia menyeru kami, tapi kami lari dan menjauh darinya. Kemudian sebagian dari kami memercayai dan mengikutinya dan sebagian lagi menjauh dan mendustakannya. Mulanya aku termasuk yang mendustakan, menjauh, bahkan memeranginya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya. Kemudian beliau bersabda, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada kaum musyrikin’.”
Gregory kemudian bertanya tentang Islam kepada Khalid bin Walid. Tak disangka, kuliah singkat di sela-sela perang itu membuat Gregory masuk Islam. [Ibnu K/Tarbiyah.net]
Disarikan dari buku Khalid bin Walid karya Agha Ibrahim Akram.
Pada pekan keempat Agustus 636 M bertepatan dengan pekan ketiga Rajab 15 H, Gregory mendatangi Khalid bin Walid. Saat itu perang Yarmuk belum berakhir, namun ia ingin mendapatkan kejelasan tentang gelar pedang Allah.
“Wahai Khalid,” kata Gregory, “jawablah dengan jujur dan jangan berdusta karena seorang yang merdeka tidak akan berdusta dan jangan pula engkau menipuku karena seorang yang mulia tidak akan menipu orang yang berharap secara baik-baik. Apakah Allah pernah menurunkan sebuah pedang dari langit kepada Nabi-Nya kemudian diberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau hunuskan pada suatu kaum engkau pasti bisa mengalahkannya?”
“Tidak,” jawab Khalid bin Walid.
“Lantas mengapa engkau disebut pedang Allah?”
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya pada kami lalu ia menyeru kami, tapi kami lari dan menjauh darinya. Kemudian sebagian dari kami memercayai dan mengikutinya dan sebagian lagi menjauh dan mendustakannya. Mulanya aku termasuk yang mendustakan, menjauh, bahkan memeranginya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya. Kemudian beliau bersabda, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada kaum musyrikin’.”
Gregory kemudian bertanya tentang Islam kepada Khalid bin Walid. Tak disangka, kuliah singkat di sela-sela perang itu membuat Gregory masuk Islam. [Ibnu K/Tarbiyah.net]
Disarikan dari buku Khalid bin Walid karya Agha Ibrahim Akram.
Minggu, 20 Maret 2016
Tanpa Islam Semuanya Hampa
Tanpa Islam Semuanya Hampa
[oleh: Dr. Muntaha AZ]
Suatu hari Aisyah RA gundah saat memikirkan salah satu kerabatnya, salah satu tokoh Quraisy keturunan bani Tamim bin Murrah, ‘Aisyah RA selalu mengenang betapa mulianya beliau ini, betapa tidak, tatapan mukanya yang begitu meneduhkan, uluran tangan belas kasihnya telah membuat hati siapapun akan tertaut mencintainya, orang-orang yang tak berpunya senantiasa berduyun-duyun datang demi mendapatkan orang yang akan menyeka kegelisahan dan keperitan hidupnya, yang kelaparan akan datang berbondong untuk menghilangkan haus dan dahaganya menemui tokoh besar ini, dialah Abdullah bin Jud’an, seorang tokoh Quraisy yang sangat dermawan dan berbudi yang sangat luhur, menjadi kebanggaan bani Tamim tak terkecuali Aisyah RA pun kagum dengan budi baiknya.
Al-Imam an-Nawawi di dalam bukunya al-Minhaj, syarah Shahih Muslim menerangkan, Abdullah ibnu Jud’an memiliki bejana tempat makanan yang sangat besar, bahkan untuk melihat isi di dalamnya diperlukan tangga untuk memanjatnya, semua itu menjadi bukti kedermawanan Ibnu Jud’an.
Aisyah RA merenung gundah, kegelisahan beliau tak terbendung, maka saat bercengkrama dengan baginda Nabi saw, sang suami yang juga seorang rasul penerima wahyu, yang sabdanya bukan setara dengan manusia biasa, sabdanya dalam bimbingan wahyu, yang tentu diyakini akan menjadi pelipur lara dan mengusir kebingungannya, dan lebih dari itu Rasulullah saw mengetahui perihal seseorang yang akan ditanyakannya. Maka Aisyah memberanikan diri bertanya:
"يَا رَسُولَ الله، بنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَلِكَ نَافِعُهُ؟
“Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyah selalu menyambung hubungan keluarga dan selalu memberi makan kepada orang miskin, apakah itu semua akan bermanfaat untuknya?”.
Pertanyaan yang sungguh wajar, dan kegundahan yang memang semestinya, sebab Aisyah RA memahami bahwa Abdullah bin Jud’an bukanlah seorang muslim.
Namun ternyata, bukan hanya Ummul mu’minin ‘Aisyah RA yang gelisah memikirkan “masa depan” kerabatnya. Adalah juga seorang sahabat yang bernama ‘Adiy (عدي), nama penuhnya ‘Adi bin Hatim at-Tho’iy, ‘Adiy juga dirundung kegelisahan memikirkan nasib ayahnya, Hatim, tokoh besar dari lereng gunung Syammar yang namanya melegenda hingga kini.
Hatim, siapakah orang Arab yang tak mengenalnya, bahkan betapa banyaknya orang tua yang mengabadikan nama ini untuk simbol kebanggaan bagi nama anak-anaknya. Hatim, sang dermawan dan penyair Arab yang nama agungnya tertulis lekat dengan tinta emas sejarah, beliau keturunan orang besar, salah satu cicit Imri’ al-Qais, sang pujangga dan penya’ir Arab jahiliyah yang tiada duanya. Hatim juga penya’ir ulung, namun kepiawainnya bersya’ir tertutup oleh kedermawanannya, kedermawanannya melegenda, bahkan sisa-sisa kedermawanannya masih melekat dengan masyarakat di tempat lahirnya. Setidaknya penulis baris-baris huruf ini pernah berkunjung ke tempat kelahiran Hatim pada tahun 1999, di Hail, sebuah kota di belahan Utara Sauudi Arabia, setelah menempuh jarak sekitar 450 km dari kota Madinah, dan sampai di Hail, penulis hanya bisa tertegun dan terpana, sambutan dari guru penulis yang juga tuan rumah dan sahabat-sahabatnya tak akan terlupakan, kedermawanana yang sangat “berlebihan”, dan sampai kapanpun akan selalu terkenang. Dan kedermawanan menjadi ciri khas kota ini. Hatim at-Tho’iy telah menginspirasi seluruh penduduk tempat kelahirannya untuk berlomba berbagi dan menderma.
Melihat betapa luhurnya budi ayahnya, maka wajarlah ‘Adiy RA menanyakan tentang ayahnya, adakah keluhuran budi dan kedermawanan tersebut ada manfaatnya di hari akhir?
Mohon maaf, sambil menunggu jawaban baginda Nabi saw, bila melihat jarum jam sejarah dan diputar ke belakang, tentu akan ditemukan banyak Hatim dan akan ditemukan berbilang Ibnu Jud’an, dan sepertinya di hati pembaca saat ini juga terselip sekian banyak nama, nama-nama besar yang punya jasa besar untuk kehidupan manusia, dari belahan Barat hingga ujung Timur planet ini. Persoalan yang sangat mendasar adalah, mereka bukan muslim.
Dan boleh jadi di sekitar kita juga ditemui sederet nama yang bisa disejajarkan dengan Hatim dan Ibnu Jud’an. Adakah budi baik dengan sesama bisa menjadi parameter final untuk kebaikan hakiki?
Ada beberapa hadits yang mungkin bisa menambah kegundahan, di antaranya riwayat yang sangat masyhur dan sudah tersebar di masyarakat muslim, riwayat yang berbunyi:
"خير الناس أنفعهم للناس"
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesama manusia”.
Riwayat yang senada sangat banyak, penilitian validitas hadits ini dari sudut sanad hadits dipersilisihkan keshahihannya, ada yang menyebutnya “dha’if”, ada yang “dha’if jiddan”, namun dengan makna yang sama dengan lafadz yang berbeda ada juga yang menyebutnya “hasan”. Tulisan ini tidak ingin terjebak dalam polemik hukum hadits ini, dan lagi pula persoalan ini tidak termasuk dalam bab hukum, namun masuk dalam bab “fadha’il”, yang jumhur ulama’ tidak begitu tegas dalam memperdebatkan validitas sebuah hadits dalam bab fadha’il, bahkan jika dha’if sekalipun tidak begitu dipermasalahkan. Sebab berbuat baik kepada sesama manusia hukum asalnya memang dianjurkan baik dari nash Qur’an maupun nash hadits-hadits yang shahih.
Jika melihat kehidupan Ibnu Jud’an dan Hatim, dan melihat betapa banyaknya kontribusi yang telah diberikan untuk umat saat mereka hidup, maka yang muncul dalam benak adalah, adakah setelah dia meninggal dia akan mendapatkan “pahala”nya? Itulah yang menggelitik dalam benak ‘Aisyah RA dan ‘Adiy RA.
Rasulullah saw dalam hal ini tidak melihat Ibnu Jud’an sebagai kerabat ‘Aisyah istrinya yang sangat dicintainya atau Hatim sebagai ayah ‘Adiy sebagai sahabat dekatnya, sebab terkadang seseorang ada yang berbasa-basi demi menyenangkan orang-orang dekatnya, namun jawaban Nabi saw yang berdasarkan wahyu sangat tegas dan lugas.
Untuk perrtanyaan ‘Aisyah yang menanyakan adakah Ibnu Jud’an akan mendapatkan pahala dan kenikmatan akhirat?
قَالَ: "لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ". (رواه مسلم).
Rasulullah menjawab: “Tidak akan bermanfaat untuknya, sesungguhnya dia sekalipun dalam hidupnya tak perrnah mengucapkan: “Tuhan, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan”. (HR. Muslim).
Dan untuk menjawab kegelisahan ‘Adiy bin Hatim, beliau menyatakan,
"إِنَّ أَبَاكَ أَرَادَ أَمْرًا فَأَدْرَكَهُ".
“Sesungguhnya ayahmu menginginkan sesuatu, dan ia telah mendapatkannya”, maksud “sesuatu” dalam hadits tersbut adalah “sebutan orang”. (HR. Ahmad dalam musnadnya). Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan riwayat ini shahih.
Di dalam Musnadnya Imam Ahmad juga menyebut jalur riwayat lain:
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبِي كَانَ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ، فَهَلْ لَهُ فِي ذَلِكَ يَعْنِي مِنْ أَجْرٍ؟ قَالَ: " إِنَّ أَبَاكَ طَلَبَ أَمْرًا، فَأَصَابَهُ "
Dari ‘Adiy bin Hatim berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku menyambung hubungan keluarga, banyak perbuatan baiknya, adakah beliau mendapatkan pahala dari perbuatannya itu?, Rasulullah saw menjawab: “Sesungghnya ayahmu ingin memperoleh sesuatu, dan ia telah mendapatkannya”. (HR Ahmad), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan, hadits ini hasan.
Baik Hatim maupun Ibnu Jud’an, semua semua sepakat bahwa perilakuknya sangat humanis, semua sepakat bahwa perbuatan mereka sungguh mulia, namun urusan akhirat bukan urusan manusia, urusan pahala bukan urusan manusia, maka Nabi saw menyatakan bahwa perbuatan baik yang dilakukan orang kafir, saat di akhirat semuanya hampa.
Bukan hanya orang kafir, orang Islam yang telah bersyahadatain jika amalnya dihinggapi riya’, maka amalnya yang bercampur riya’ tersebut menjadi hampa.
Semuanya karena tujuan amal bukan untuk Allah, sedangkan pahala hanya dari Allah. Jika muslim yang bersyahadat ketika amalnya yang bercampur riya’ menjadi musnah pahala amal tersebut, lantas bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Allah?, kemana niatnya ditujukan? bagaimana pula dengan orang yang menyekutukan Allah dengan total, bagaimana pula dengan orang atheis, mengharap surga dari siapa?
Berbuat baik dengan sesama dan menjauhi kedzaliman itu memang anjuran Islam, namun itu bukanlah inti pokok ajaran Islam, sebab seluruh agama mengajarkan hal itu, terutama ajaran agama samawi. Para rasul bukanlah diutus hanya untuk urusan akhlak, namun yang lebih utama dari itu adalah untuk mengembalikan posisi hamba sebagai hamba sejati, jangan sampai hamba menuhankan selainNya, dan jangan pula hamba menuhankan dirinya. Sebab terkadang seseorang terbebas dari menyembah ilah-ilah lain, namun dia ternyata sedang khusyu’ menyembah keinginan hawa nafsunya sendiri.
))أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا(( (الفرقان: 43)
“Tidakkah kamu tahu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, apakah kamu akan menjadi penolongnya” (QS. Al-Furqan: 43). Menurut Ibnu Abbas, dahulu orang jahiliyah menyembah berhala berwarna putih, jika dia sudah tidak suka akan diganti dengan berhala lain yang lebih baik, demikian Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Saat orang jahiliyah menentukan sesembahan, yang menjadi referensi utamanya adalah nafsunya. Maka Allah sebut sebagai tuhan mereka. Jika pembaca ada waktu, lanjutkanlah membaca petikan ayat al-Furqan ini ke ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, maka semuanya akan jelas dan terang benderang bahwa Islam bukan hanya menumpukan pada akhlak dan budi pekerti semata. Nyata, bahwa amal tanpa bingkai keislaman di akhirat semuanya hanya bagai debu-debu yang beterbangan.
Segala puji bagi Allah, dan kasih tak terhingga kepada para rasul dan nabi yang telah menjalankan amanah dan tugasnya meskipun nyawa mereka menjadi taruhannya, untuk mengembalikan status manusia seluruh alam ini sebagai hamba sejati, mengigatkan mereka serta mengajak untuk menyembah Allah pencipta mereka. Semoga bahtera kesejahteraan melimpah ke atas mereka semua.
Dakwah untuk mengajak manusia kepada agama Islam adalah puncak kasih sayang, maka Rasulullah saw di daulat sebagai rasul yang mebawa rahmat untuk seluruh alam semesta. Agar jelas perbedaan status antara “Tuhan” dan “Hamba”, sebab pelanggaran status yang sakral ini dalam agama Islam tergolong sebagai kedzaliman yang extraordinary. Wallahu a’lam.
Salam kenal untuk anggota group ini, salam hormat dan ta’dzim dan selamat berlibur bagi yang libur, dan mohon maaf lahir batin jika tidak berkenan
muntaha
Kuala Lumpur, 19 Maret 2016.
[oleh: Dr. Muntaha AZ]
Suatu hari Aisyah RA gundah saat memikirkan salah satu kerabatnya, salah satu tokoh Quraisy keturunan bani Tamim bin Murrah, ‘Aisyah RA selalu mengenang betapa mulianya beliau ini, betapa tidak, tatapan mukanya yang begitu meneduhkan, uluran tangan belas kasihnya telah membuat hati siapapun akan tertaut mencintainya, orang-orang yang tak berpunya senantiasa berduyun-duyun datang demi mendapatkan orang yang akan menyeka kegelisahan dan keperitan hidupnya, yang kelaparan akan datang berbondong untuk menghilangkan haus dan dahaganya menemui tokoh besar ini, dialah Abdullah bin Jud’an, seorang tokoh Quraisy yang sangat dermawan dan berbudi yang sangat luhur, menjadi kebanggaan bani Tamim tak terkecuali Aisyah RA pun kagum dengan budi baiknya.
Al-Imam an-Nawawi di dalam bukunya al-Minhaj, syarah Shahih Muslim menerangkan, Abdullah ibnu Jud’an memiliki bejana tempat makanan yang sangat besar, bahkan untuk melihat isi di dalamnya diperlukan tangga untuk memanjatnya, semua itu menjadi bukti kedermawanan Ibnu Jud’an.
Aisyah RA merenung gundah, kegelisahan beliau tak terbendung, maka saat bercengkrama dengan baginda Nabi saw, sang suami yang juga seorang rasul penerima wahyu, yang sabdanya bukan setara dengan manusia biasa, sabdanya dalam bimbingan wahyu, yang tentu diyakini akan menjadi pelipur lara dan mengusir kebingungannya, dan lebih dari itu Rasulullah saw mengetahui perihal seseorang yang akan ditanyakannya. Maka Aisyah memberanikan diri bertanya:
"يَا رَسُولَ الله، بنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَلِكَ نَافِعُهُ؟
“Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyah selalu menyambung hubungan keluarga dan selalu memberi makan kepada orang miskin, apakah itu semua akan bermanfaat untuknya?”.
Pertanyaan yang sungguh wajar, dan kegundahan yang memang semestinya, sebab Aisyah RA memahami bahwa Abdullah bin Jud’an bukanlah seorang muslim.
Namun ternyata, bukan hanya Ummul mu’minin ‘Aisyah RA yang gelisah memikirkan “masa depan” kerabatnya. Adalah juga seorang sahabat yang bernama ‘Adiy (عدي), nama penuhnya ‘Adi bin Hatim at-Tho’iy, ‘Adiy juga dirundung kegelisahan memikirkan nasib ayahnya, Hatim, tokoh besar dari lereng gunung Syammar yang namanya melegenda hingga kini.
Hatim, siapakah orang Arab yang tak mengenalnya, bahkan betapa banyaknya orang tua yang mengabadikan nama ini untuk simbol kebanggaan bagi nama anak-anaknya. Hatim, sang dermawan dan penyair Arab yang nama agungnya tertulis lekat dengan tinta emas sejarah, beliau keturunan orang besar, salah satu cicit Imri’ al-Qais, sang pujangga dan penya’ir Arab jahiliyah yang tiada duanya. Hatim juga penya’ir ulung, namun kepiawainnya bersya’ir tertutup oleh kedermawanannya, kedermawanannya melegenda, bahkan sisa-sisa kedermawanannya masih melekat dengan masyarakat di tempat lahirnya. Setidaknya penulis baris-baris huruf ini pernah berkunjung ke tempat kelahiran Hatim pada tahun 1999, di Hail, sebuah kota di belahan Utara Sauudi Arabia, setelah menempuh jarak sekitar 450 km dari kota Madinah, dan sampai di Hail, penulis hanya bisa tertegun dan terpana, sambutan dari guru penulis yang juga tuan rumah dan sahabat-sahabatnya tak akan terlupakan, kedermawanana yang sangat “berlebihan”, dan sampai kapanpun akan selalu terkenang. Dan kedermawanan menjadi ciri khas kota ini. Hatim at-Tho’iy telah menginspirasi seluruh penduduk tempat kelahirannya untuk berlomba berbagi dan menderma.
Melihat betapa luhurnya budi ayahnya, maka wajarlah ‘Adiy RA menanyakan tentang ayahnya, adakah keluhuran budi dan kedermawanan tersebut ada manfaatnya di hari akhir?
Mohon maaf, sambil menunggu jawaban baginda Nabi saw, bila melihat jarum jam sejarah dan diputar ke belakang, tentu akan ditemukan banyak Hatim dan akan ditemukan berbilang Ibnu Jud’an, dan sepertinya di hati pembaca saat ini juga terselip sekian banyak nama, nama-nama besar yang punya jasa besar untuk kehidupan manusia, dari belahan Barat hingga ujung Timur planet ini. Persoalan yang sangat mendasar adalah, mereka bukan muslim.
Dan boleh jadi di sekitar kita juga ditemui sederet nama yang bisa disejajarkan dengan Hatim dan Ibnu Jud’an. Adakah budi baik dengan sesama bisa menjadi parameter final untuk kebaikan hakiki?
Ada beberapa hadits yang mungkin bisa menambah kegundahan, di antaranya riwayat yang sangat masyhur dan sudah tersebar di masyarakat muslim, riwayat yang berbunyi:
"خير الناس أنفعهم للناس"
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesama manusia”.
Riwayat yang senada sangat banyak, penilitian validitas hadits ini dari sudut sanad hadits dipersilisihkan keshahihannya, ada yang menyebutnya “dha’if”, ada yang “dha’if jiddan”, namun dengan makna yang sama dengan lafadz yang berbeda ada juga yang menyebutnya “hasan”. Tulisan ini tidak ingin terjebak dalam polemik hukum hadits ini, dan lagi pula persoalan ini tidak termasuk dalam bab hukum, namun masuk dalam bab “fadha’il”, yang jumhur ulama’ tidak begitu tegas dalam memperdebatkan validitas sebuah hadits dalam bab fadha’il, bahkan jika dha’if sekalipun tidak begitu dipermasalahkan. Sebab berbuat baik kepada sesama manusia hukum asalnya memang dianjurkan baik dari nash Qur’an maupun nash hadits-hadits yang shahih.
Jika melihat kehidupan Ibnu Jud’an dan Hatim, dan melihat betapa banyaknya kontribusi yang telah diberikan untuk umat saat mereka hidup, maka yang muncul dalam benak adalah, adakah setelah dia meninggal dia akan mendapatkan “pahala”nya? Itulah yang menggelitik dalam benak ‘Aisyah RA dan ‘Adiy RA.
Rasulullah saw dalam hal ini tidak melihat Ibnu Jud’an sebagai kerabat ‘Aisyah istrinya yang sangat dicintainya atau Hatim sebagai ayah ‘Adiy sebagai sahabat dekatnya, sebab terkadang seseorang ada yang berbasa-basi demi menyenangkan orang-orang dekatnya, namun jawaban Nabi saw yang berdasarkan wahyu sangat tegas dan lugas.
Untuk perrtanyaan ‘Aisyah yang menanyakan adakah Ibnu Jud’an akan mendapatkan pahala dan kenikmatan akhirat?
قَالَ: "لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ". (رواه مسلم).
Rasulullah menjawab: “Tidak akan bermanfaat untuknya, sesungguhnya dia sekalipun dalam hidupnya tak perrnah mengucapkan: “Tuhan, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan”. (HR. Muslim).
Dan untuk menjawab kegelisahan ‘Adiy bin Hatim, beliau menyatakan,
"إِنَّ أَبَاكَ أَرَادَ أَمْرًا فَأَدْرَكَهُ".
“Sesungguhnya ayahmu menginginkan sesuatu, dan ia telah mendapatkannya”, maksud “sesuatu” dalam hadits tersbut adalah “sebutan orang”. (HR. Ahmad dalam musnadnya). Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan riwayat ini shahih.
Di dalam Musnadnya Imam Ahmad juga menyebut jalur riwayat lain:
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبِي كَانَ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ، فَهَلْ لَهُ فِي ذَلِكَ يَعْنِي مِنْ أَجْرٍ؟ قَالَ: " إِنَّ أَبَاكَ طَلَبَ أَمْرًا، فَأَصَابَهُ "
Dari ‘Adiy bin Hatim berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku menyambung hubungan keluarga, banyak perbuatan baiknya, adakah beliau mendapatkan pahala dari perbuatannya itu?, Rasulullah saw menjawab: “Sesungghnya ayahmu ingin memperoleh sesuatu, dan ia telah mendapatkannya”. (HR Ahmad), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth menyatakan, hadits ini hasan.
Baik Hatim maupun Ibnu Jud’an, semua semua sepakat bahwa perilakuknya sangat humanis, semua sepakat bahwa perbuatan mereka sungguh mulia, namun urusan akhirat bukan urusan manusia, urusan pahala bukan urusan manusia, maka Nabi saw menyatakan bahwa perbuatan baik yang dilakukan orang kafir, saat di akhirat semuanya hampa.
Bukan hanya orang kafir, orang Islam yang telah bersyahadatain jika amalnya dihinggapi riya’, maka amalnya yang bercampur riya’ tersebut menjadi hampa.
Semuanya karena tujuan amal bukan untuk Allah, sedangkan pahala hanya dari Allah. Jika muslim yang bersyahadat ketika amalnya yang bercampur riya’ menjadi musnah pahala amal tersebut, lantas bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Allah?, kemana niatnya ditujukan? bagaimana pula dengan orang yang menyekutukan Allah dengan total, bagaimana pula dengan orang atheis, mengharap surga dari siapa?
Berbuat baik dengan sesama dan menjauhi kedzaliman itu memang anjuran Islam, namun itu bukanlah inti pokok ajaran Islam, sebab seluruh agama mengajarkan hal itu, terutama ajaran agama samawi. Para rasul bukanlah diutus hanya untuk urusan akhlak, namun yang lebih utama dari itu adalah untuk mengembalikan posisi hamba sebagai hamba sejati, jangan sampai hamba menuhankan selainNya, dan jangan pula hamba menuhankan dirinya. Sebab terkadang seseorang terbebas dari menyembah ilah-ilah lain, namun dia ternyata sedang khusyu’ menyembah keinginan hawa nafsunya sendiri.
))أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا(( (الفرقان: 43)
“Tidakkah kamu tahu orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, apakah kamu akan menjadi penolongnya” (QS. Al-Furqan: 43). Menurut Ibnu Abbas, dahulu orang jahiliyah menyembah berhala berwarna putih, jika dia sudah tidak suka akan diganti dengan berhala lain yang lebih baik, demikian Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Saat orang jahiliyah menentukan sesembahan, yang menjadi referensi utamanya adalah nafsunya. Maka Allah sebut sebagai tuhan mereka. Jika pembaca ada waktu, lanjutkanlah membaca petikan ayat al-Furqan ini ke ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, maka semuanya akan jelas dan terang benderang bahwa Islam bukan hanya menumpukan pada akhlak dan budi pekerti semata. Nyata, bahwa amal tanpa bingkai keislaman di akhirat semuanya hanya bagai debu-debu yang beterbangan.
Segala puji bagi Allah, dan kasih tak terhingga kepada para rasul dan nabi yang telah menjalankan amanah dan tugasnya meskipun nyawa mereka menjadi taruhannya, untuk mengembalikan status manusia seluruh alam ini sebagai hamba sejati, mengigatkan mereka serta mengajak untuk menyembah Allah pencipta mereka. Semoga bahtera kesejahteraan melimpah ke atas mereka semua.
Dakwah untuk mengajak manusia kepada agama Islam adalah puncak kasih sayang, maka Rasulullah saw di daulat sebagai rasul yang mebawa rahmat untuk seluruh alam semesta. Agar jelas perbedaan status antara “Tuhan” dan “Hamba”, sebab pelanggaran status yang sakral ini dalam agama Islam tergolong sebagai kedzaliman yang extraordinary. Wallahu a’lam.
Salam kenal untuk anggota group ini, salam hormat dan ta’dzim dan selamat berlibur bagi yang libur, dan mohon maaf lahir batin jika tidak berkenan
muntaha
Kuala Lumpur, 19 Maret 2016.
Langganan:
Postingan (Atom)