Pages

Rabu, 14 September 2016

Perbedaan Antara Perlombaan (Persaingan) dengan Dengki



Nabi Muhammad Saw bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Takutlah kalian dari perbuatan dengki, karena dengki akan mengikis kebaikan-kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar.“ (H.R Abu Dawud)
 
Dengki adalah penyakit hati yang berbahaya. Dengki memiliki efek negatif bagi pelakunya dan berdampak buruk bagi hubungan sosialnya, terutama bagi orang-orang yang didengkinya. Rasa dengki bisa mendorong seseorang melakukan tindak kejahatan seperti membunuh atau menyakiti orang yang didengki. Bahkan terhadap orang-orang yang berada di sekeliling orang yang didengki, baik saudara maupun teman.

Berikut adalah perbedaan antara persaingan dengan dengki :

1. Perlombaan (persaingan) adalah keinginan serius untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi setelah melihat keutamaan orang lain, agar bisa menyusul bahkan mengunggulinya.

Perlombaan (persaingan) menandakan salah satu kemuliaan hati dan cita-cita yang tinggi serta besarnya kemauan yang dimiliki seseorang.
Dalam hal ini Allah Swt. berfirman,
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (Al-Muthaffifin [83]: 26)

Makna asal dari kata munaafasah adalah sesuatu yang berharga, yang diinginkan dan diharapkan oleh semua orang. Maka dari itu, semua orang yang memiliki hati yang suci akan saling berlomba untuk mendapatkannya.

Hati yang suci itu akan senang bila ikut bergabung dalam persaingan memperebutkan sesuatu yang berharga itu, seperti halnya para sahabat Rasulullah Saw. yang bergembira bila bisa ikut berpartisipasi dalam persaingan memperebutkan kebaikan.

Bahkan, beberapa di antara mereka saling men-support. Ini merupakan bagian dari perlombaan, sebagaimana firman Allah Swt., “Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Al-Māidah [5]: 48)

Allah juga berfirman, “Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid [57]: 21)
 
Umar bin Khaththab r.a pernah mencoba mendahului Abu Bakar r.a dalam melakukan kebaikan, namun tidak pernah bisa. Ketika Abu Bakar menjadi pemimpin, Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencoba menyaingimu lagi dalam segala kebaikan.”

Dalam kesempatan yang lain Umar berkata, “Demi Allah, setiap kali aku mencoba mendahuluinya dalam berbuat kebaikan, aku selalu mendapatkannya lebih dulu mengerjakan kebaikan tersebut.”

Dua insan yang saling berlomba, ibarat dua anak yang saling berlomba memperebutkan keridhaan dan kasih sayang orang tuanya. Orang tua merasa senang dengan persaingan anak-anaknya dan menganjurkan mereka dalam persaingan kebaikan tersebut. Sementara keduanya saling mencintai dan saling menganjurkan untuk mencari keridhaan kedua orang tua.

2. Dengki adalah akhlak tercela yang sangat buruk.

Seorang pendengki tidak memiliki i’tikad baik sama sekali. Ia akan mendengki orang-orang yang berbuat baik dan melakukan tindakan terpuji. Ia berharap mereka tidak bisa melakukan kebaikan sehingga sama-sama dalam derajat tanpa kebaikan, sebagaimana firman Allah Swt.,
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.” (Al-Baqarah [2]: 109)

Pendengki adalah musuh kenikmatan atau anugerah. Dia selalu berharap kenikmatan hilang dari pemiliknya sebagaimana dirinya yang hidup tanpa kenikmatan.

Sedangkan orang yang berlomba adalah pencari anugerah. Dia berharap mendapatkan kesempurnaan anugerah untuk dirinya dan untuk mereka yang menjadi saingannya. Dia berusaha menyaingi orang lain dan berharap bisa mengunggulinya dalam hal kebaikan.

Seorang pendengki senang melihat kemunduran orang lain, dan berharap bisa sama-sama dalam derajat kekurangan. Mayoritas hati yang suci akan memilih persaingan dalam kebaikan dari pada harus mendengki.

Barang siapa menjadikan seorang ulama yang bertakwa sebagai idolanya, lalu berusaha menyamainya dalam keutamaan tersebut, maka dia akan banyak mendapatkan manfaat. Ia akan menyerupai orang tersebut dalam kebaikan dan berusaha mengejar atau mengunggulinya. Ini bukanlah tindakan tercela.

Kata dengki terkadang digunakan untuk menyebutkan sebuah perlombaan (persaingan) yang terpuji,
sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِيْ الْحَقِّ وَآخَرُ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak ada kedengkian kecuali terhadap dua orang berikut ini; pertama, seseorang yang diberikan kelebihan harta, lalu ia gunakan di jalan yang benar. Kedua, seseorang yang diberikan suatu hikmah kemudian dia gunakan dan ajarkan.”
 
Kedengkian di sini bermakna persaingan dan iri (ghibthah) yang menunjukkan akan tingginya cita-cita seseorang dan kemauannya yang menggebu-gebu untuk menyamai keutamaan yang dimiliki orang lain.

Semoga Allah hindarkan kita dari sifat DENGKI.
Aamiin.

Salam,
Abghan

Sumber : Buku Terapi Dengki dan Pandangan Mata
Oleh Abdul Qodir Abu Thalib

0 komentar:

Posting Komentar