Salim A. Fillah
1) Ada Shalih(in+at) yang bertanya; dalam Diin, dibenarkankah bersikap
& beramal yang berbeda dari ilmu yang difahami & fikih yang
diyakini?
<!-- more -->
2) Atau bagaimanakah kita; jika harus berbeda dengan orang-orang yang
kita hormati & cintai dalam perkara penting? Izinkan kami bercerita.
3) "Musibah! Musibah! Inna liLlah wa inna ilaiHi raji'un!", begitu seru
sahabat mulia 'Abdullah ibn Mas'ud di 'Arafah pada suatu musim haji.
4) "Aku bersama Nabi, beliau mengqashar. Aku bersama Abu Bakr, dia
mengqashar. Aku bersama 'Umar, dia mengqashar. Dan kini, 'Utsman tidak!"
5) Kelak, kita tahu; Sayyidina 'Utsman RadhiyaLlahu 'Anh punya
penjelasan atas sikap beliau yang tak mengqashar shalat dalam haji
tersebut.
6) Di waktu shalat berikutnya, tampak Ibn Mas'ud bermakmum di belakang
'Utsman. Maka beliau ditanya, "Apakah engkau rujuk dari pendapatmu?"
7) "Tidak, demi Allah", ujar Ibn Mas'ud. "Tetapi perpecahan itu buruk."
Fahaman benar, tepat, & indah. Semoga Allah ridha pada mereka semua.
8) Kisah lain; Imam Ahmad ibn Hanbal dalam suatu pendapat menyatakan
bahwa orang yang keluar darah mengalir, maka wudhu'nya dihukumi batal.
9) Lalu ada yang bertanya pada beliau RhmhLlh, "Apa kau mau bermakmum di
belakang Imam yang mimisan (keluar darah dari hidung) saat shalat?
10) Maka beliau menjawab, "SubhanaLlah; bagaimana mungkin aku tidak mau
shalat di belakang Imam Malik, Sufyan Ats Tsaury, Imam Al Auza'i?
11) Beliau menyebutkan nama-nama para 'Alim nan mulia itu; yang mana
mereka berpendapat bahwa keluar darah tidaklah membatalkan shalatnya.
12) 'Abdullah ibn 'Abbas & Zaid ibn Tsabit, RadhiyaLlahu 'Anhuma,
juga berbeda pendapat dalam banyak hal; salah satunya soal
waris/faraidh.
13) Menurut Ibn 'Abbas; bagian kakek sama dengan ayah kala tiada. Tak
demikian menurut Zaid. Ibn 'Abbas sampai berkata, "Ana sa-ubahiluh.."
14) "Aku akan bermubahalah dengan dia! Bagaimana mungkin dia bedakan
bagian kakek dengan ayah tapi tetap samakan bagian anak dengan cucu!"
15) Tapi ketika ada kerabat Ibn 'Abbas mengalami persoalan itu; beliau
justru undang Zaid ibn Tsabit, dimintai fatwa untuk menyelesaikannya.
16) Saat Zaid ibn Tsabit pulang, Ibn 'Abbas menuntun keledai Zaid &
bermaksud mengantar beliau hingga ke rumahnya. Zaidpun merasa tak enak.
17) "Tak usah begitu duhai putra Paman RasuluLlah, tak perlu engkau
menuntun keledaiku!" Mendengar hal tersebut, Ibn 'Abbas pun tersenyum.
18) "Beginilah kami diperintahkan", ujar Ibn 'Abbas, "Untuk memuliakan
'ulama kami." Zaid ibn Tsabit menukas, "Perlihatkanlah tanganmu."
19) "..duhai sepupu RasuluLlah!" Maka Ibn 'Abbas pun menunjukkan
tangannya & segeralah Zaid mencium serta mengecupnya dengan penuh
ta'zhim.
20) Ibn 'Abbas amat terkejut dan menegur Zaid, "Apa ini wahai sahabat
RasuluLlah? Apa ini wahai penulis Al Quran dan faqihnya kaum Anshar?"
21) Maka Zaid tersenyum, "Demikianlah kami diperintahkan, tuk memuliakan
keluarga & ahli bait RasuluLlah ShallaLlahu 'Alaihi wa Sallam."
22) Moga Allah ridhai mereka semua; yang luas ilmunya, dalam fikihnya,
lapang dadanya, jelita akhlaqnya. Moga kita dimampukan meneladaninya.
23) WaLlahu A'lam bish shawab. إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت و ما توفيقي إلا بالله عليه توكلت و إليه أنيب
*https://twitter.com/salimafillah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar